Madura United Mendukung Konsep Uji Coba VAR di Akhir Kompetisi BRI Liga 1 2021/2022

Madura United dukung wacana PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator ajang yang berencana mempraktikkan teknologi video assistant referee (VAR) di akhir Kompetisi BRI Liga 1 2021/2022.

Pemakaian VAR itu diperuntukkan sebagai alat pendukung bagi wasit lapangan hijau dalam pengambilan keputusan. Karena, banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa sang wasit membikin keputusan yang kurang tepat.

Wacana itu hadir dari Direktur Utama PT LIB, Akhmad Hadian Lukita yang berencana menjajal VAR di penghujung ajang BRI Liga 1 musim ini. Bahkan, dia mengaku sudah berkoordinasi dengan PSSI.

Juru racik Madura United, Rahmad Darmawan menyambut positif masalah wacana itu. Menurutnya, VAR memang sudah seharusnya segera dipraktikkan.

“Bukan hanya soal keputusan yang tidak seharusnya. Beberapa klub lain juga sering bersuara soal off side, gol, dan sebagainya. Saya dari awal dan pertama kali yang menyuarakan pentingnya VAR. Saya dukung wacana uji coba VAR itu,” ungkap Rahmad Darmawan.

Pernyataan nahkoda asal Lampung ini tidak terlepas dari sejumlah keputusan pengadil lapangan yang kurang tepat dalam duel yang melibatkan Laskar Sape Kerrab. Teranyar, peristiwa itu menimpa mereka ketika melawan Arema FC di Stadion Sultan Agung Bantul, Senin (01/11/2021).

Dalam partai jornada ke-11 ajang kasta tertinggi Indonesia itu, kedua klub tampil seri 1-1 hingga menit ke-89. Tetapi, gelandang Singo Edan, Dendi Santoso terjatuh tanpa kontak berarti dengan kedua pilar Laskar Sape Kerrab Fachrudin Aryanto dan Kim Jin-sung.

Tetapi, wasit Mansur meniup pluit tanda pelanggaran memberikan hadiah tendangan bebas untuk Arema FC. Lini belakang kanan Rizky Dwi Febrianto pun maju sebagai eksekutor yang melesakkan gol cantik.

Dia berhasil menyarangkan bola ke gawang Laskar Sape Kerrab yang dijaga Muhammad Ridho di menit ke-90. Brace itu tentu saj menjadi penentu kemenangan Arema FC.

Performa para wasit BRI Liga 1 musim ini menjadi sorotan lantaran banyak membikin keputusan yang kurang tepat. Persija Jakarta pula pernah dirugikan dengan keputusan wasit Oki Dwi Putra ketika meladeni klub asal Malang itu, Minggu (17/10/2021).

Akibatnya, Macan Kemayoran harus takluk 0-1 dan tidak berhasil memetik angka di duel itu. Manajemen Persija kemudian mengirimkan surat protes kepada PSSI atas kepemimpinan wasit Oki Dwi Putra yang banyak merugikan mereka.

Lalu, Persebaya Surabaya pula sempat dirugikan dengan keputusan kurang tepat wasit ketika menghadapi Persela Lamongan (21/10/2021). Dalam partai itu, klub asal Kota Pahlawan ini harus lega tampil seri 1-1.

Itu bermula ketika penyerang Jose Wilkson mengadakan eksekusi tendangan bebas yang mengarah ke gawang. Bola pernah ditangkap Dwi Kuswanto, tetapi terlepas dan tayangan ulang memperlihatkan bola sudah melewati garis gawang.

Wasit Musthofa Umarella tidak mengesahkan brace itu dan tetap mengatakan pertandingan berlanjut di tengah protes para punggawa. DAlam keadaan ini, Laskar Joko Tingkir dengan cepat mengadakan serangan balik ke pertahanan Bajol Ijo.

Sial buat tim besutan Aji Santoso, operan terobosan pilar Laskar Joko Tingkir kepada Ivan Carlos yang tampak offside tidak membikin laga mandek masih di menit yang sama. Sang bomber kemudian melepaskan sepakan mendatar kaki kiri yang tidak berhasil dibendung penjaga gawang Andhika Ramadhani.

Cuma saja, untuk pemakaian teknologi asisten wasit video alias VAR adalah memerlukan biaya yang tidak sedikit. Direktur Utama PT Liga Indonesia (LIB), Ahmad Hadian Lukita, menyebut setidaknya memerlukan 6 juta dolar AS (Rp85 miliar) untuk mengadakan VAR di Kompetisi Liga 1.

Biaya itu mengacu pada ajang negara tetangga seperti Thailand yang sudah mengoperasikan VAR. PT LIB tentu harus memutar otak untuk mencari biaya sebesar itu demi meninggikan kualitas ajang Indonesia.

Selain peralatannya yang mahal, pemakaian VAR pula wajib didukung oleh infrastruktur yang memadai dan wasit yang terlatih plus berlisensi.

“Jadi kami memiliki program percepatan. Seorang konsultan VAR sudah datang ke PT LIB agar kami bisa ikut program percepatan dengan mendatangkan pengajarnya,” jelas Direktur Utama PT LIB, Akhmad Hadian Lukita belum lama ini.

“Itu lebih efisien. Peralatannya nanti akan kami beli dan dites. Saat uji coba nanti pada akhir musim Liga 1, kami bakal didampingi. Sebab, tidak semua bisa diputuskan oleh VAR. Mungkin hanya penalti dan kartu merah,” imbuhnya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *