Penyerang Anyar PSS Sleman Menjawab Pertanyaan Pendukung Super Elang Jawa: Mengidolakan Chelsea Sampai Ingin Berkarier di Eropa

PSS Sleman punya bomber anyar yang siap bersaing di lini serang pada Liga 1 2021. Sosok yang dimaksud adalah pilar asal Medan, Dwi Rafi Angga, yang sebelumnya tampil untuk klub Liga 2, PSIM Yogyakarta.

Amunisi berpostur tinggi 181cm itu sudah dicoba kemampuannya oleh Super Elang Jawa, dalam turnamen pramusim Piala Menpora 2021. Ia mengisi slot ujung tombak lokal di tim asal Sleman itu, bersaing dengan Saddam Emiruddin Gaffar dan Arsyad Yusgiantoro.

Punggawa asal Medan itu menjalani debutnya di Super Elang Jawa pada duel perdana fase grup, meladeni Madura United. Ia bermain sejak menit pertama. Sayangnya, tim besutan Dejan Antonic ini mengalami kekalahan di partai itu. Meskipun begitu, ia ikut menimba banyak pengalaman dalam perjalanan PSS mengunci posisi ketiga Piala Menpora.

Banyak pihak terutama kalangan suporter setia Super Elang Jawa yang ingin mengenal seluk-beluk sosok pilar berusia 25 tahun itu. Belum lama ini dirinya menjadi narasumber podcast PSS dalam kanal YouTube PSS TV, untuk menjawab pertanyaan dari para pendukung PSS Sleman.

Dalam agenda yang dipandu oleh Panjirangi itu, eks pemain PSIM Yogyakarta itu menjawab beberapa pertanyaan pendukung. Diawali dari keinginannya di Super Elang Jawa yang merupakan klubnya sekarang, sampai berbagai pengalaman bareng dunia lapangan hijau.

“Ambisi terbesar gabung PSS nomor satu adalah prestasi, karena sebelumnya saya main di Liga 3 dan 2, ini saatnya saya harus meningkatkan prestasi,” katanya menjawab pertanyaan pertama.

“Klub favorit, saya mengidolakan Chelsea, dan striker Didier Drogba,” lanjut pemain PSS Sleman itu.

Mantan pilar Sulut United itu pula menjawab pertanyaan seputar kisah awalnya berkecimpung di sepak bola. Ia mengaku pernah memperoleh penolakan dari ibunya untuk berkarier di sepak bola. Tetapi ia sukses membuktikan diri, sepak bola dapat menghidupi keluarganya.

“Ibu saya yang sempat tidak mendukung saya di sepak bola, ayah yang mendukung. Ibu saya mengarahkan kalau fokus olahraga di perorangan, bukan tim,” tuturnya.

“Saya pun nekat beli sepatu di pasar barang bekas pinggir jalan. Pelan-pelan bisa tembus ke level nasional, bisa membantu beban orang tua, dan terbukti untuk dapat dukungan orang tua.”

“Awalnya saya berposisi kiper di SSB, setelah itu tulang pada sakit karena harus terbang-terbang. Saya pun pindah di posisi lain dalam seleksi dan akhirnya jadi striker sampai sekarang,” ungkap Dwi Rafi.

Daerah DIY bukan tempat yang asing baginya, meskipun lahir dan besar di Medan. Dwi Rafi mengaku cukup akrab dan betah tinggal di Kota Gudeg.

Termasuk ketika dirinya menjadi andalan PSIM Yogyakarta sebelum pindah ke Super Elang Jawa. Ia kerap menjelajah tempat hits di daerah DIY yang memang menjadi tujuan wisata, sampai kerap asyik nongkrong di angkringan.

Satu di antara momen spesial berada di Yogyakarta adalah ketika dibikin terharu oleh Cristian Gonzales saat satu klub di Laskar Mataram pada musim 2019. Hari ulang tahunnya secara khusus dirayakan oleh sang pilar dengan memberinya kejutan.

“Pengalaman main dengan El Loco di PSIM, saya diajak nongkrong di hari ultah saya. Lagi ngopi bareng, istri dan anaknya datang bawa kue, terharu buat saya yang bukan siapa-siapa,” jelasnya.

Dwi Rafi masih mempunyai beberapa impian dalam kariernya di lapangan hijau, termasuk ingin memperkuat Timnas Indonesia dan berkiprah di luar negeri suatu saat nanti.

“Melihat Indonesia seperti kesulitan mencari striker lokal, banyak klub pakai striker asing. Sebelum ke PSS ada tawaran dari negara ASEAN, tp hanya sebatas omongan di awal, selanjutnya tidak jelas. Kalau ditanya ingin main di Eropa saya suka Inggris atau Belanda. Sudah terbiasa merantau sejak remaja, seperti tarkam hingga ke Aceh saat SMA,” tegasnya menutup obrolan.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *