Agus Rela Membunuh Ibu Kandung Dan Istri Sendiri

Agus Rela Membunuh Ibu Kandung Dan Istri Sendiri : Psikolog dari Universitas Kristen Maranatha Bandung yakni Efnie Indriyani menduga bahwa Agus Supriyatna yang ditetapkan sebagai tersangka pelaku yang membunuh ibu kandung dan istri mengalami kombinasi personality disorder atau gangguan kepribadian dan kerusakan limbic system.

Agus Rela Membunuh Ibu Kandung Dan Istri Sendiri

Agus belum sampai skizofrenia atau gangguan mental atau biasa disebut gila. Sebab pelaku masih bisa berhubungan dengan realita dan bersosialisasi secara baik. Menurut Efnie, hal yang membuat seseorang melakukan tindakan sadis rata-rata atau pada umumnya ada personality disorder yang artinya pelaku mengalami ganguan kepribadian.

Kalau dilihat dari struktur otak, pengidap personality disorder ini biasanya lymbic system-nya mengalami kerusakan. Khususnya di bagian amigdala, bagian otak ini berperan untuk dapat mengendalikan emosi dan perilaku seseorang. Juga mengendalikan rasa kasih sayang, marah, benci, serta sedih.

Jika bagian ini (limbick system) rusak, individu yang mengalaminya akan sulit untuk bisa mengendalikan diri. Saat marah, emosinya akan sulit diredam, bahkan bisa melakukan tindakan di luar kendali. Limbic system membajak kendali sosok yang bersangkutan.

“Pelaku melakukan kejahatan secara sadar tetapi tanpa nalar. Dia sadar melakukan itu tetapi pelaku tak mampu mengontrol tindakannya. Kalau gangguan jiwa skizofrenia, pengidap mengalami halusinasi setiap saat dan memiliki dunianya sendiri sehingga dia terhambat berkontak dengan realitas dan bersosialisasi. Sedangkan pengidap personality disorder tidak. Dia masih bisa bersosialisasi dengan baik,” jelas Efnie.

Kerusakan limbic system bisa terjadi sejak kecil karena mungkin dia pernah menjadi korban kekerasan atau penyiksaan, terpapar informasi tentang agresi, kekerasan, atau melihat lingkungan sekitarnya yang penuh dengan tindak berbau kekerasan. Kondisi itu (kerusakan limbic system) biasanya bisa juga diturunkan secara genetis. Namun genetis umumnya lebih ke arah tempramen. Itu terkunci dalam DNA.

“Namun untuk memastikan apakah pelaku ini mengalami personality disorder dan kerusakan limbic sytem atau tidak, memang perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tambah Efnie.