Kali Perdana PSM Makassar Memulai Ajang Tanpa Legiun Asing Yang Komplit

Ada yang berbeda dengan susunan punggawa PSM Makassar pada kompetisi BRI Liga 1 2021/2022. Untuk kali perdananya klub asal Makassar itu tidak melengkapi kuota pilar asing pada awal kiprah mereka di ajang kasta teratas Indonesia.

Juku Eja dipastikan cuma dibela dua amunisi asal Belanda, Wiljan Pluim dan Anco Jansen, pada pekan perdana musim ini, yaitu saat meladeni Arema FC pada 05 September mendatang.

Manajemen Juku Eja memang sedang mencari dua legiun asing tambahan untuk melengkapi kuota. Dua nama yang kencang beredar adalah Serif Hasic dari Bosnia dan Faysal Shayesteh dari Afghanistan.

Tetapi, jika pun jadi berlabuh dengan Juku Eja, keduanya tidak otomatis bisa tampil dalam waktu dekat. Mereka wajib melakoni karantina mandiri selama delapan hari sesuai protokol kesehatan untuk pendatang dari luar negeri.

Bagi klub kebanggaan Sulawesi Selatan ini, keadaan ini jauh berbeda daripada sebelumnya, terutama di era Liga 1. PSM Makassar selalu mampu melengkapi kuota pilar asing plus menjadi punggawa yang selalu mengadakan pergantian sriekr tiap putaran musim berjalan.

Sepertinya di kompetisi Liga 1 2017, Juku Eja menggunakan jasa Steven Paulle asal Prancis, Wiljan Pluim, Marc Anthony Klok yang waktu itu belum berganti kewarganegaraan menjadi Indonesia, dan Reinaldo Elias da Costa asal Australia, yang kemudian digantikan bomber asal Uzbekistan, Pavel Purishkin, pada putaran kedua. Hasilnya, PSM Makassar berada di posisi ketiga pada akhir musim.

Pada musim selanjutnya, Juku Eja mempertahankan trio Paule, Pluim, dan Klok. Kemudian mereka cuma menggaet satu ujung tombak berpaspor Australia, Bruce Djite.

Nama terakhir ini kemudian kembali dilepas menyongsong putaran kedua dan digantikan striker berpaspor Hongkong, Alessandro Ferreira Leonardo. Juku Eja pun cuma tercecer satu angka dari sang kampiun, Persija Jakarta, pada akhir musim.

Sementara di ajang Liga 1 2019, Juku Eja yang dilatih Darije Kalezic sebagai pengganti Robert Alberts tetap mempertahankan duo Belanda, Pluim dan Klok. PSM Makassar memboyong dua punggawa impor anyar, yaitu Aaron Evans asal Australia dan Eero Markannen asal Finlandia.

Seperti dua musim sebelumnya, Juku Eja mengadakan pergantian ujung tombak pada putaran kedua, di mana Markannen dilepas untuk menggaet Amido Balde, sang bomber yang dilepas Persebaya Surabaya. Meskipun cuma berada di papan tengah klasemen akhir ajang kasta tertinggi Indonesia musim 2019, PSM Makassar tidak kehilangan wajah dengan memetik gelar kampiun Piala Indonesia 2018/2019. Musim ini ditandai perekrutan dua pilar naturalisasi, yaitu Raphael Maitimo dan Ezra Walian.

Pada musim 2020, Juku Eja yang menjadi wakil Indonesia di Piala AFC tetap konsisten dengan susunan punggawa asing yang komplit. Selain mempertahankan Pluim dan Ezra yang berstatus punggawa naturalisasi, manajemen PSM Makassar merekrut Hussein El Dor asal Lebanon, Serif Hasic asal Bosnia, dan Giancarlo Rodriguez asal Brasil.

Juku Eja pun tetap menggunakan jasa juru racik asing. Kali ini, mereka ditukangi Bojan Hodak yang menggantikan peran Darije Kalezic. Sayang, seperti diketahui kompetisi Liga 1 2020 dan Piala AFC dinyatakan batal sebab wabah virus Corona.

Meskipun sementara ini cuma dibela dua legiun asing pada awal ajang, kekuatan Juku Eja sejatinya pantas diperhitungkan oleh para pesaing di kompetisi BRI Liga 1 2021/2022. Apalagi juru taktik Milomir Seslija menjadikan mayoritas punggawa inti di Piala Menpora 2021 jadi kerangka starter, seperti Hilmansyah, Zulkifli Syukur, Erwin Gutawa, Hasim Kipuw, Abdul Rahman, Rasyid Bakri, Sutanto Tan, M. Arfan, dan Rizky Eka Pratama.

Selain nama di atas masih ada Yacob Sayuri, Saldi Amiruddin, Prisca Womsiwor, dan Abdul Rahman Sulaiman yang mampu menjadi tumpuan.

“PSM tetap menjanjikan dengan mengacu penampilan mereka di Piala Menpora 2021, plus Jansen dan Pluim. Tapi, patut dicatat, atmosfer kompetisi sangat berbeda dengan turnamen. PSM tetap butuh kedalaman skuad agar bisa bersaing,” tegas Andi Coklat, mantan jenderal lapangan The Maczman.

Tidak pelak seraya menanti kehadiran dua legiun asing tambahan, beban berat wajib ditanggung Pluim dan Jansen untuk menjaga performa klub, khususnya pada pekan-pekan awal ajang kasta teratas Indonesia musim 2021/2022.

Kompetisi Liga 1 2018 jadi musim terbaik Pluim bareng Juku Eja memang cuma berada di posisi dua lantaran takluk satu angka dari Persija Jakarta yang berada di peringkat puncak klasemen akhir dengan mengumpulkan 62 angka. Tapi, aksinya bisa membius publik sepak bola Indonesia. Musim 2018, pemain asal Belanda itu bermain dalam 29 pertandingan dengan koleksi 5 brace dan 6 assist. Total menit tampilnya adalah 2.606.

Musim 2019 jadi masa susah buat pilar berusia 32 tahun itu. Cedera engkel terus membayangi performanya. Apalagi, tiap bermain bareng Juku Eja, sang punggawa selalu menjadi bidikan musuh untuk dimatikan. Alhasil di kompetisi Liga 1 2019, Wiljan Pluim cuma tampil dalam 19 duel dari 34 laga yang dimainkan PSM Makassar. Sang pilar pun balik ke Belanda sebelum ajang berkesudahan.

Meskipun begitu, musim ini tetap menjadi kenangan tersendiri buat gelandang berpostur tinggi 194cm itu. Meskipun tidak maksimal di kompetisi Liga 1, sang pemain tetap jadi pilar berharga PSM Makassar ketika mememetik gelar kampiun Piala Presiden 2018/2019. Dalam partai final, Juku Eja menghilangkan hasrat Persija yang ingin mengawinkan gelar Liga 1 dan Piala Presiden.

Sementara aksi Jansen belum teruji. Apalagi, sang ujung tombak hadir ke Makassar dengan bekal minor. Berseragam NAC Breda, Jansen tidak menciptakan satu gol pun dalam 15 kali penampilan.

Sementara di PSM, Jansen sudah mencetak enam gol dalam empat laga uji coba Juku Eja. Namun, aksinya itu tidak bisa dijadikan ukuran karena lawan yang dihadapi PSM adalah tim amatir, yakni PON Sulsel, OTP 37 Mamuju, Khaka FC, dan Alesha FC. Itu pun, empat dari enam golnya berasal dari titik putih.

Menarik untuk dinanti-nanti seberapa besar kontribusi kedua punggawa itu buat Juku Eja yang sedang mencari dua legiun asing tambahan untuk melengkapi kouta sesuai aturan PT Liga Indonesia Baru selaku operator ajang.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *