Serta Menunggu Kepastian Liga 1 2021, PSS Sleman Memperbanyak Menu Tim

Manajemen PSS Sleman enggan latur dalam keterpurukan pada masa wabah Corona. Kondisi yang membikin persepakbolaan di Indonesia ikut terdampak, seperti penangguhan ajang sejak tahun lalu.

Semua tim, termasuk Super Elang Jawa, wajib menerima keputusan PSSI yang membubarkan ajang musim 2020. Alhasil kebijakan masa kerja maupun hak dan keharusan pilar seluruhnya dikembalikan ke tim.

Selain melukiskan persiapan meladeni ajang pada 2021 ini, klub asal Sleman ini punya segudang acara yang telah mulai berjalan. Direktur Utama PSS Sleman, Marco Gracia Paulo, menyikapi awal 2021 dengan membikin tim lebih fokus mengumpulkan semua energi, waktu, kekuatan, dan sumber dayanya.

Sejauh ini Super Elang Jawa sudah mewujudkan tiga menu nyata meskipun belum ada ajang. Berawal dengan peresmian Omah PSS, kemudian menjaring mitra usaha lewat menu Kancane PSS, sampai teranyar peluncuran buku berjudul Super Elja Method.

Menurut Marco, harus disyukuri Super Elang Jawa sebagai tim yang utuh tetap menjalankan kegiatan usaha dan manajerial walaupun ajang belum dimulai. Sementara di sisi klub, juru racik Dejan Antonic pula sudah mempersiapkan rencana menjelang ajang 2021.

“PSS Sleman sudah berada di jalurnya, sudah on the track. Semoga semangat positif ini tersebar juga di klub-klub lain. Selain itu, PSS juga tetap bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan sepak bola Indonesia,” ujar Marco Gracia Paulo, Rabu (03/02/2021).

Manajemen PSS Sleman baru saja merilis buku Super Elja Method, Jumat (28/01/2021). Buku ini merupakan metodologi yang berisi kumpulan cara dan sistem yang dipakai development center Super Elang Jawa.

Sebagaimana diketahui, departemen ini mengelola talenta-talenta muda, mulai dari umur 16 sampai 20 tahun. Buku yang dibentuk itu merupakan tahap awal dari sebuah proyek pengembangan jangka panjang.

“Kita semua mungkin sepakat Indonesia sangat kaya dengan bakat-bakat sepak bola terbaik. Namun, selalu muncul pertanyaan mengapa kita selalu gagal bersaing dengan negara-begara elite sepak bola dunia?” tutur kepala development center PSS, Guntur Cahyo Utomo.

“Ada banyak jawaban memang, tapi kami yakin ada satu hal yang sangat luar biasa penting sebagai penyebab, yaitu persoalan cara kami mengembangkan bakat-bakat tersebut,” lanjutnya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *