Persebaya Surabaya Menanggapi Tawaran Damai Pemkot Surabaya Masalah Sengketa Karanggayam

Perselisihan yang terjadi antara Persebaya Surabaya dan Pemkot Surabaya masalah kepemilikan Wisma Persebaya nampaknya nyaris mencapai ujung. Pihak Pemkot Surabaya Berkeinginan Bajol Ijo mencabut tuntutan di pengadilan.

“Ya agar bisa kami kerjasama kan ya harus begitu (cabut tuntutan). Secepatnya akan kami selesaikan,” kata Whisnu Sakti Buana, Plt Walikota Surabaya.

Tim asal Kota Pahlawan ini via kuasa hukumnya, Yusron Marzuki, menanggapi tawaran itu. Tetapi, dia mempertanyakan keseriusan dan ketulusan gerakan perdamaian itu yang baru dilontarkan saat ini.

“Sangat terlambat. Kenapa baru sekarang bicara soal perdamaian dan sewa? Saat proses hukum sudah berjalan. Bahkan sampai tingkat kasasi,” ucap Yusron, Sabtu (30/01/2021).

Wisma Persebaya merupakan tempat yang amat bersejarah. Daerah yang berada di Jalan Karanggayam No. 1, Surabaya, tersebut menjadi tempat mes para amunisi klub kebanggaan Bonek dan Bonita ini sejak era Perserikatan.

Selain itu, Wisma Persebaya pula punya lapangan yang menjadi tempat terselenggaranya ajang internal Persebaya. Di lapangan itu, para pilar belia masing-masing tim internal ditempa sebelum akhirnya berlabuh klub Bajol Ijo Senior.

Sebelum, Karanggayam masih dianggap dalam sengketa antara Pemkot Surabaya dan Persebaya Surabaya. Masalah ini sesungguhnya telah berkesudahan usai putusan status Karanggayam memang milik Bajol Ijo.

Pemkot Surabaya pula pernah mengadakan banding tetapi ditolak. Mereka pula secara resmi pula mengemukakan kasasi ke tingkat Mahkamah Agung per tanggal 30 November 2020.

Yusron merasa tawaran ini terlambat karena proses yang terjadi sebelum urusan Karanggayam ini masuk ke pengadilan. Bajol Ijo telah menawarkan skema kerja sama sejak jauh hari, tetapi tidak tersambut.

Hingga akhrinya urusan ini masuk ke pengadilan, begitu pula dengan keadaan kini. Proses kasasi tengah berlangsung, mendadak tawaran sewa menyewa disampaikan.

Yusron mengajak seluruh pihak untuk menghormati proses hukum yang tengah berlangsung di Mahkamah Agung. Gerakan itu, jauh lebih bijak dibanding membikin rancangan-rancangan di luar pengadilan.

“Jadi aneh rasanya sekarang ngomong seperti itu. Tapi, kemarin Pemkot ajukan kasasi. Mari kita hormati proses hukum yang berlangsung. Kita tunggu bersama apa keputusan kasasi soal Karanggayam nanti,” ucapnya.

“Itu yang paling bijak. Karena putusan pengadilan itu erga omnes dan res judicata pro veritate habetur. Yakni semua keputusan pengadilan wajib diikuti karena itu dianggap benar,” tutur Yusron.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *